Bismillaahirrahmaanirrahiim
Kematian oleh sebagian orang
adalah sesuatu yang ingin ditunda kedatangannya. Dan oleh sebagian lainnya
ingin disegerakan kedatangannya. Mereka yang mengatakan benci dalam penantian
pun menginginkan jarak penantiannya dengan kematian semakin jauh. Dan yang
ingin kematian datang segera biasanya dilakukan oleh orang yang merasa penat
dan hilang keimanannya kepada Allah, kepada Qadha dan Qadar yang telah
ditentukanNya.
Firman Allah
“Katakanlah: “Sesungguhnya
kematian yang kalian lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan
menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang
mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa
yang telah kalian kerjakan.” (QS Al Jumuah : 8)
Kita tak bisa lari daripadanya,
bahkan menundanya 1 mil detik sekalipun.
“Maka apabila telah datang
waktunya mereka tidak dapat mengundurnya barang sesaatpun dan tidak pula dapat
memajukannya.” (Al A’raaf : 34)
Saya pernah membaca artikel
tentang adanya satu pesawat yang sedang mengudara dengan baik awalnya, kemudian
cuaca berubah dengan tida-tiba dan membuat pesawat tidak stabil. Seluruh
penumpang pesawat itu begitu takut. Ada yang berteriak minta pertolongan dan
ada yang terus menyebut nama Tuhannya. Tapi ada seorang anak yang tetap tenang
duduk di kursinya. Saat pesawat sudah kembali stabil dan akhirnya mendarat
dengan selamat seseorang bertanya kepadanya, “Aku melihatmu tenang selama
penumpang lain mengkhawatirkan jatuhnya pesawat. Bagaimana bisa kau
melakukannya?” Anak itu menjawab, “Ayahku adalah pilot dalam pesawat itu, dan
dia mengatakan akan mengantarkan aku dengan selamat.”
Anak itu tenang karena telah
memiliki keyakinan terhadap ayahnya. Dan seharusnya kitapun yakin bahwa Allah
akan membawa kita dengan selamat. Dia penunjuk jalan paling baik. Dan ketika
dikabarkan kematian akan menghampirimu, ingatlah bahwa sesuatu pasti ada
akhirnya. Kematian akan datang saat tugasmu sudah selesai di bumi ini. Boleh
jadi jika engkau terus hidup dosamu bisa terus bertambah. Ingat nikmat dari
Allah yang telah diberikan kepadamu.
Dr. Aidh Al Qarni dalam bukunya
Cahaya Zaman di subjudul apa yang kita sedihkan?
Suatu ketika saya naik pesawat
terbang dari Riyadh menuju Jeddah, ketika pesawat masuk ke dalam gumpalan awan,
badan pesawat bergetar, ketika itu kami semua merasa takut dan cemas, kami
langsung ingat akan kematian, berpisah dengan keluarga dan anak-anak. Kemudian
saya mengingat-ingat tentang kehidupan dunia dengan segala kesulitan dan
kesusahannya. Lalu saya berkata dalam hati, “Apa yang kita sedihkan jika kita
meninggalkan dunia ini? Bukankah kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal?
Kemudian saya ingat tentang semua
disa dan kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan, lalu saya berkata dalam
hati, “Kita masih memiliki tauhid dan keimanan, dan dengan keimanan tersebut,
kami mengharapkan dari Allah swt. keselamatan dan pengampunan. Namun rasa cinta
kepada dunia yang berlebihan, takut kehilangan dunia dan hati sudah terlanjur
lekat dengan dunia merupakan bukti kekurangan akal dan kemiskinan iman di hati.
Padahal kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu, penuh kesusahan,
kesulitan, dan selalu berubah-ubah, ditambah kehidupan dunia adalah kehidupan
yang fana, kita tidak akan selamanya hidup di dunia ini. Jadi, mungkin mati
sekarang lebih baik bagi kita sebelum datangnya fitnah dan kerusakan umum yang
lebih besar. Percayalah setelah muncul pikiran seperti ini dalam benak, saya
tiba-tiba tidak merasa takut sama sekali menghadapi kematian. (Cahaya Zaman,
hal.450)
Mereka yang tidak takut dengan
kematian biasanya memiliki kecintaan terhadap dunia yang sedikit, dan begitu
banyak cintanya terhadap akhirat. Mereka mencintai Allah dan beranggapan bahwa
kematian merupakan jalan untuk bertemu dengan Allah, Rabb yang mereka cintai.
Yang harus dilakukan adalah menyiapkan bekal untuk berjumpa denganNya,
memperbaiki amal, memperbanyak istighfar.
“Dan mohonlah ampunan kepada
Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepadaNya. Sungguh Tuhanku Maha Penyayang, Maha
Pengasih.” (QS Hud : 90)
Semoga setelah membaca ini, aku dan engkau tidak lagi takut dengan kematian. Menyiapkan bekal dengan teliti agar perjumpaan dengan Rabb menjadi sesuatu yang kita nantikan, bukan ditakutkan
With Love
Anisa Al Fahiiratusshabhiira
Tidak ada komentar:
Posting Komentar